Nah, fasiltasnya juga kita sediakan, seperti 64 buah wastafel, untuk 840 anak didik.
Untuk satu kelas kita sediakan 2 wastafel.
Dengan jumlah sebanyak 26 kelas
“Alhamdulillah dua hari telah berjalan ini anak anak didik kita sangat disiplin. Intinya belajar tatap muka ini bukan menjadi sebuah kewajiban. Boleh, kalimatnya, kan boleh, boleh dibuka, bukan perintahnya wajib buka sekolah.
“Bahkan sekarang lagi diisi angket – angket untuk diisi lagi dari kementerian, siap enggak sekolah itu untuk melakukan belajar tatap muka,” ujarnya.
Namun hasil survey yang dilakukan 70 persen para wali murid menginginkan anaknya belajar tatap muka di sekolah.
“Tentu kita harus merespon hal itu, ketika kita diberikan kesempatan diperbolehkan belajar tatap muka kita laksanakan,” tambahnya.
Kecuali ada larangan, seperti dahulu, nah kita tidak berani. Artinya kalau orange tidak boleh, makanya kita tidak berani, tetapi sekarang sudah diperbolehkan, makanya kita laksanakan walaupun tidak diperintahkan.
Harapan kita mudah – mudahan uji coba ini bisa berjalan dengan baik, dan tertib.
Alhamdulillah, sebut Bustami, sejauh ini anak anak didik di sekolahnya baik – baik dan tertib aturan. Artinya, dalam satu dua hari yang telah berjalan belum ada masalah.
“Insya Allah, jika kondisi ini terus bisa berjalan seperti ini, kita akan terus berupaya melanjutkannya pada bulan kedua nantinya,” terang Bustami.
Jelas Bustami, bahwa kondisi sekarang ini kategori merahpun boleh melaksanakan belajar tatap muka disekolah, asalkan sekolah menyediakan fasilitas Prokes.






