Marlina yang mendengar kisah tersebut kemudian bertanya dalam bahasa Aceh, “Kop hek ya, tiap hari harus pergi mencari lidi?”
“Lage haba nyan, bah na pue tapajoeh,” jawab Nur Laila, yang berarti memang seperti itulah kehidupannya, tanpa ada pekerjaan lain yang bisa diandalkan.
Dalam percakapan itu, Nur Laila mengungkapkan keinginannya agar rumahnya bisa dipasangi listrik. Jalur listrik sebenarnya sudah tersedia di desanya, bahkan rumahnya tak jauh dari jalan utama. Namun, karena keterbatasan biaya, ia tak mampu memasangnya.
“Neubantu pasang listrik,” pinta Nur Laila dengan penuh harap.
Marlina yang mendengar permintaan itu langsung menanggapinya dengan tegas. “Bek lampu, rumoh aju tapeugot saboh beh. Lheuh nyan baro tapasang lampu,” katanya, yang berarti sebelum memasang listrik, lebih baik terlebih dahulu membangun rumah yang layak untuk Nur Laila. Marlina lantas meminta timnya untuk mendata identitas Nur Laila.
Mendengar hal itu, Nur Laila tak kuasa menahan haru. Matanya berbinar, penuh kebahagiaan. Harapannya untuk memiliki rumah yang layak, yang selama ini terasa begitu jauh, kini akhirnya terwujud. []







