Lebih lanjut, Pangdam IM menegaskan bahwa senjata api yang tidak berada dalam pengawasan pihak berwenang berpotensi besar menjadi ancaman serius apabila jatuh ke tangan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Oleh sebab itu, dirinya mendorong seluruh masyarakat Aceh yang masih menyimpan atau menemukan senjata sisa konflik untuk tidak ragu menyerahkannya kepada aparat TNI atau kepolisian.
“Penyerahan senjata ini bukan hanya sebuah bentuk dukungan terhadap perdamaian, tetapi juga merupakan langkah nyata dalam menjaga keamanan lingkungan dan mencegah risiko penyalahgunaan senjata di tengah masyarakat,” tegasnya.
Dalam arahannya, Pangdam IM juga menginstruksikan kepada seluruh jajaran Kodam Iskandar Muda agar terus meningkatkan kegiatan komunikasi sosial dan pembinaan teritorial kepada masyarakat.
Pendekatan yang bersifat humanis dan edukatif diyakini menjadi kunci keberhasilan dalam menumbuhkan kesadaran kolektif untuk mendukung terciptanya Aceh yang aman, damai, dan sejahtera.
“Jajaran Kodam IM harus terus hadir di tengah masyarakat, membangun komunikasi yang terbuka dan menyentuh sisi kemanusiaan, agar masyarakat tidak merasa terintimidasi saat ingin menyerahkan senjata yang dimilikinya secara tidak resmi,” tambah Mayjen TNI Niko Fahrizal.
Sebagai catatan, dengan penyerahan senjata api kali ini, total senjata api yang telah diserahkan oleh masyarakat secara sukarela kepada Kodam Iskandar Muda sejak kepemimpinan Mayjen TNI Niko Fahrizal mencapai 25 pucuk dari berbagai jenis.
Capaian ini mencerminkan keberhasilan strategi pembinaan teritorial yang mengutamakan edukasi, kepercayaan, dan pendekatan emosional dibandingkan dengan tindakan represif.







