Keempat proyek investasi strategis tersebut sudah memiliki studi kelayakan (feasibility study), namun masih perlu penilaian dan pendampingan narasumber dari Universitas Syiah Kuala (USK) dan Konsultan BKPM RI sebelum ditawarkan kepada investor.
“Hilirisasi SDA Aceh menjadi keniscayaan. Hilirisasi bukan lagi jargon pemerintah, tetapi harus menjadi aksi nyata dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Aceh yang inklusif, berkualitas dan berkelanjutan yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Kita tidak hanya mengolah bahan mentah menjadi produk jadi atau setengah jadi, tetapi menciptakan nilai tambah dan multiplier effect yang luas bagi perekonomian daerah,” tutup Rahmadhani.
Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen DPMPTSP Aceh dan Bank Indonesia dalam mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi Aceh yang inklusif dan berkelanjutan melalui investasi berkualitas yang akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat Aceh.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, hadir sejumlah narasumber/penilai IPRO, seperti Prof. DR. Faisal, SE, M.Si, MA, Prof. DR. Willy Abdillah, M.Sc, DR. Fairuzzabadi, SE, M.Sc, DR. A Sakir, SE, MM, CFRM, DR. Meitri Hening Chrisna Daluarti, MT dan Syarifah Rahmawati, SE, MM. []







