Fadhlullah menjelaskan, selama 20 tahun perdamaian, Aceh telah mencatatkan kemajuan yang membanggakan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Aceh kini termasuk daerah dengan indeks demokrasi yang tinggi. Capaian ini menunjukkan bahwa Aceh berada dalam kondisi yang kondusif, dengan penghormatan terhadap hak-hak sipil dan politik masyarakat yang dijalankan secara baik dan berkualitas.
“Kondisi ini tentu menjadi modal penting untuk mendorong pembangunan Aceh yang lebih sejahtera dan bermartabat,” kata Fadhlullah.
Dari sisi ekonomi, lanjut Fadhlullah, merujuk data BPS triwulan II tahun 2025, Aceh mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,82 persen, lebih tinggi dibandingkan Sumatra Utara 4,69 persen maupun Riau 4,59 persen. Tingkat kemiskinan pun mengalami penurunan, dari 12,64 persen pada tahun 2024 menjadi 12,33 persen pada triwulan 2025.
“Capaian-capaian ini menunjukkan kemajuan yang patut kita syukuri dan kita perkuat bersama. Dengan kebersamaan, komitmen, dan dukungan seluruh pihak, Insya Allah kemajuan ini akan terus meningkat, sehingga Aceh dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kemajuan bangsa dan negara,” pungkas Fadhlullah.
Selain penyerahan penghargaan, dalam acara malam penganugerahan perdamaian itu juga serahkan beasiswa pendidikan untuk sejumlah anak mantan kombatan GAM yang telah meninggal dunia.
Acara malam itu berlangsung khidmat, dimulai dengan pemutaran video dokumenter terkait para tokoh Aceh yang terlibat dalam perjuangan hingga perdamaian.
Hadir dalam acara tersebut, Wakil Menteri HAM, Mugiyanto, Dubes Finlandia, Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal, dan sejumlah tokoh penting lainnya. []







