
Pemulihan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi, kerja cepat, dan komitmen dalam penanganan pascabencana mampu mengembalikan harapan, memperkuat ketahanan pangan, serta menggerakkan kembali roda ekonomi warga di wilayah terdampak banjir.
Melalui skema rehabilitasi yang dirancang Satgas PRR Aceh, lahan-lahan terdampak dibagi berdasarkan tingkat kerusakan agar proses pemulihan berlangsung lebih efektif.
Untuk kategori lahan rusak sedang, rehabilitasi dilakukan bersama jajaran TNI melalui Kodim 0117/Aceh Tamiang. Dari target 712 hektare, ratusan hektare lahan telah berhasil dibersihkan dari endapan lumpur dan sebagian bahkan sudah kembali ditanami padi.
Sementara untuk kategori lahan rusak ringan, Satgas PRR Aceh mendorong keterlibatan langsung kelompok tani melalui program Optimalisasi Lahan (Oplah). Pendekatan ini tidak hanya mempercepat pemulihan, tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri masyarakat untuk bangkit dengan kekuatan mereka sendiri.
Dampaknya mulai terlihat nyata. Di sejumlah desa di Kecamatan Bendahara, Manyak Payed, dan Karang Baru, aktivitas pertanian kembali berjalan normal. Para petani yang sebelumnya kehilangan sumber pendapatan kini kembali mengolah sawah dan mempersiapkan musim panen berikutnya.

Efek Domino hingga Aceh Timur dan Langsa
Program pemulihan yang dilakukan Satgas PRR Aceh tidak hanya berdampak pada Aceh Tamiang. Di Aceh Timur dan Kota Langsa, berbagai intervensi pascabencana turut membantu mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat.
Perbaikan infrastruktur pertanian, pembersihan saluran air, rehabilitasi lahan, hingga dukungan sarana produksi pertanian membuat masyarakat dapat kembali beraktivitas secara produktif.







