Bagi wilayah timur Aceh yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan provinsi, percepatan pemulihan sektor pertanian memiliki arti strategis. Ketika petani kembali menanam, bukan hanya keluarga mereka yang terbantu, tetapi juga stabilitas pasokan pangan daerah dapat terjaga.
Aktivitas ekonomi di desa-desa terdampak pun mulai menggeliat. Pedagang pupuk, pengusaha penggilingan padi, hingga pelaku usaha kecil yang bergantung pada sektor pertanian kembali merasakan dampak positif dari bangkitnya aktivitas produksi.
Irigasi Menjadi Kunci Keberlanjutan
Satgas PRR Aceh menyadari bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membersihkan lumpur. Karena itu, program rehabilitasi juga diperkuat melalui bantuan irigasi pompa (Irpop) yang ditempatkan di puluhan titik strategis.
Keberadaan pompa-pompa tersebut menjadi solusi penting untuk menjamin ketersediaan air selama masa tanam dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa rehabilitasi yang dilakukan tidak sekadar bersifat darurat, tetapi juga dirancang untuk menciptakan ketahanan pangan yang lebih kuat dalam jangka panjang.

Safrizal ZA: Pemulihan Harus Mengembalikan Harapan
Kepala Satgas PRR Aceh, Dr. Safrizal ZA, menegaskan bahwa tujuan utama program rehabilitasi bukan sekadar memperbaiki kerusakan fisik akibat bencana, melainkan mengembalikan kehidupan masyarakat yang terdampak.
“Pemulihan pascabencana harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Yang kita bangun bukan hanya sawah, tanggul, atau saluran air, tetapi juga harapan masyarakat agar mereka dapat kembali bekerja, berproduksi, dan menjalani kehidupan secara normal,” Safrizal ZA, Jumat, 5 Juni 2026 di Sigli







