Warga juga mengeluhkan tumpukan daun di atap rumah yang disebut dapat mempercepat kerusakan seng. Selain itu, ranting yang bersentuhan dengan kabel listrik dikhawatirkan mengganggu jaringan kelistrikan.
Kekhawatiran turut muncul terkait dampak pertumbuhan akar pohon terhadap kondisi tanah dan ketersediaan air di lingkungan sekitar. Namun, dugaan bahwa pohon menjadi penyebab pendangkalan sumur atau berkurangnya cadangan air tanah masih perlu dibuktikan melalui kajian teknis.
Persoalan lain yang disorot adalah kondisi infrastruktur jalan. Saluran drainase di sepanjang jalur tersebut dilaporkan tersumbat, permukaan aspal bergelombang, dan genangan air kerap muncul ketika hujan turun.
Kondisi ini dinilai menyulitkan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor dan bus wisata yang melintas menuju PLTD Apung. Dahan pohon yang menjuntai rendah juga mengganggu pergerakan kendaraan besar sehingga pengemudi bus harus menyesuaikan arah perjalanan untuk menghindari dahan dan hambatan di badan jalan. Di sisi lain, sejumlah bagian trotoar dilaporkan mengalami kerusakan sehingga tidak lagi berfungsi optimal sebagai jalur pejalan kaki.
Pohon Bantuan Pascatsunami Perlu Dievaluasi
Pohon-pohon trembesi tersebut disebut ditanam melalui bantuan organisasi nonpemerintah atau NGO setelah bencana tsunami 2004. Saat itu, penanaman dilakukan untuk menghadirkan keteduhan dan menghijaukan kembali kawasan yang kehilangan banyak vegetasi akibat bencana. Namun, seiring berjalannya waktu, pertumbuhan pohon yang semakin besar dinilai perlu disesuaikan dengan kondisi ruang tanam, lebar jalan, dan kepadatan permukiman.






