Sebelum dan sesudah rehabilitasi pascabanjir di Aceh Tamiang. Lahan persawahan yang sempat tertimbun lumpur akibat bencana hidrometeorologi akhir 2025 kini kembali menghijau dan produktif. Foto: Istimewa
Aceh Tamiang, Acehinspirasi.com l Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah timur Aceh pada akhir 2025 meninggalkan luka mendalam bagi ribuan keluarga petani. Banjir yang merendam kawasan Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang tidak hanya menghanyutkan hasil panen, tetapi juga mengubur harapan masyarakat di bawah timbunan lumpur yang menutupi sawah dan lahan produktif.
Namun enam bulan berselang, pemandangan yang tersaji kini sangat berbeda. Hamparan sawah yang sempat berubah menjadi lautan lumpur perlahan kembali menghijau. Aktivitas pertanian kembali bergerak, mesin ekonomi desa berputar, dan optimisme masyarakat tumbuh seiring hadirnya program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dijalankan Satgas Penanganan dan Rehabilitasi Rekonstruksi (PRR) Aceh.
Keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan. Ia merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, TNI, kelompok tani, dan berbagai pemangku kepentingan yang bekerja tanpa henti untuk memastikan masyarakat terdampak bencana dapat kembali bangkit.
Memulihkan Lahan, Menghidupkan Ekonomi
Di Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah, ribuan hektare sawah tertimbun lumpur akibat banjir besar yang terjadi pada November 2025. Kondisi tersebut sempat memunculkan kekhawatiran akan terganggunya produksi pangan sekaligus menurunnya pendapatan masyarakat pedesaan.







