Menurut Iswanto, butuh upaya sistematis dan regulatif untuk mewujudkan MPP di Aceh Besar, namun dengan nawaitu untuk melayani walau dibayangi risiko saat itu, ia bersama Forkopimda Aceh Besar melakukan peresmian dan mengoperasionalkan gedung MPP.
Akhirnya sebuah babak baru layanan yang cepat, efesien, terukur dan berkualitas terwujud di Aceh Besar. Lebih dari itu juga nyaman, layaknya counter layanan perbankan atau sejenisnya.
Sementara di sisi lain, layanan yang sifatnya sektoral seperti kesehatan, pendidikan hingga layanan kedaruratan juga dipacu secara serentak. Semua diminta menyingsingkan lengan untuk memberikan karpet merah bagi akses layanan publik.
Hasilnya semua melakukan inovasi untuk memaksimalkan pelayanan, seperti di RSUD Aceh Besar yang telah membuka layanan pendaftaran online serta ragam kemudahan lainnya.
Bahkan khusus BPBD Aceh Besarkadang berubah fungsi layaknya panggilan darurat 911 yang melayani keluhan masyarakat hingga lembu kecemplung sumur.
Hasilnya, dari sisi layanan sektoral itu, Aceh Besar nyaris mencatat nilai sempurna yakni 95 untuk layanan di dua Puskesmas, yaitu Puskesmas Inginjaya dan Darul Imarah.
Sekadar diingat, penilaian dilakukan oleh lembaga resmi pemerintah, tanpa ada tendensi apapun, karena ini juga bagian dari evaluasi pemerintahan atasan.
“Mereka adalah lembaga resmi yang menilai secara real time, kadang mereka datang tanpa diketahui, karena ini sifatnya murni penilaian, tanpa tendensi apapun,” kata Iswanto.
Sosok nomor satu di Pemkab Aceh Besar itu secara terbuka mengucapkan terimakasih kpada seluruh jajarannya yang dengan dedikasi tinggi telah mrwujudkan birokrasi melayani di Aceh Besar.







