Setelah semua orang yang ditemuinya di lorong-Lorong RSUDZA mendapat bagian, Marlina kembali ke dalam mobilnya. Kota Banda Aceh masih lengang, lampu jalan remang-remang menerangi aspal yang dingin. Namun, perjalanan masih panjang.
Mobil yang ditumpanginya meluncur ke Jalan Pocut Baren, tempat tukang becak menepi, menunggu rezeki esok pagi. Marlina turun, membawa kembali nasi kotak dan paket sembako.
“Pat tinggai, Bapak? Nyoe na kamoe ba bu sahur,” ujarnya ramah, sembari menanyakan tempat tinggal para tukang becak sebelum menyerahkan makanan.
Para penerima tampak terkejut. Dalam dinginnya pagi, tak ada yang menyangka sosok yang mereka kenal hanya lewat layar media kini berdiri di hadapan mereka, menawarkan sebungkus nasi berisi sepotong ayam goreng, daging rendang, dua ekor udang, sayur kuah, jeruk manis, serta air mineral.
Tak hanya itu, dua kilogram minyak goreng, dua kilogram gula, satu kotak kurma, dan tiga botol sirup turut diberikan, cukup untuk meringankan kebutuhan dapur di pagi itu.
“Alhamdulillah, makasih banyak, Ibu. Pas sekali waktunya makan sahur,” ujar Tgk Irwadi, seorang tukang becak yang terlihat terkesima. Ia mengaku setiap malamnya bekerja mengumpulkan barang bekas untuk dimuat ke dalam becaknya sebelum dijual ke penampung.
Perjalanan berlanjut ke Pasar Peunayong, tempat pedagang kecil dan tukang becak lain masih berjibaku dengan waktu. Marlina kembali turun, menyapa, bertanya, mendengar cerita mereka, lalu memberikan makanan. Di bawah lampu jalan yang redup, wajah-wajah lelah itu menyiratkan rasa syukur yang tulus.







