Jam semakin mendekati pukul lima pagi. Marlina kini telah melewati Bundaran Simpang Lima, Jembatan Pante Pirak, hingga ke kawasan Pasar Aceh.
Ia menyusuri pusat pertokoan, menemui pedagang kios yang sedang menutup lapaknya, lalu membagikan sisa paket yang masih ada. Sesekali, ia bahkan menyetop becak dan pengendara roda dua yang kebetulan lewat, memberikan mereka satu porsi sahur.
Langkahnya akhirnya terhenti di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Cahaya lampu masjid yang megah memantulkan siluet kelelahan yang tak indah. Di bawah menara utama, Marlina duduk, membuka kotak nasi terakhir yang tersisa. Semua telah terbagi.
“Alhamdulillah, semua sudah terbagi,” ucapnya pelan, sebelum perlahan mulai menyantap sahurnya sendiri dan mempersilakan orang-orang yang menemaninya ikut menyantap sahur bersama.
Dalam remang dini hari, 230 kotak nasi dan 200 paket sembako telah tersampaikan. Bukan sekadar makanan, tetapi juga penghangat hati bagi mereka yang menerimanya.
Dan di sepertiga malam itu, di antara doa-doa yang mengudara, Marlina kembali menegaskan bahwa berbagi tak selalu harus megah—cukup dengan ketulusan, di waktu yang tepat, untuk orang-orang yang membutuhkan. []







