KPA juga menyayangkan jika masih ada pihak yang mencari sensasi di hari perdamaian Aceh. “Kejadian yang diungkapkan ketua komisi I DPRA seakan menunjukkan bahwa dia adalah korban dalam memperjuangkan bendera Aceh. Justeru, semestinya sebagai ketua Komite I Azhari Cagee harus malu karena gagal memperjuangkan bendera Aceh sehingga terus menerus colling down,” sesalnya.
Pihaknya berharap, semua pihak berbesar hati dan mengakomodir semua harapan masyarakat Aceh terkait bendera dan simbol Aceh.
“Jalan tengah yang telah diusulkan Mualem dan Wali Nanggroe sangatlah bijak, namun kita menyayangkan masih ada drama dari anggota DPRA yang hendak berakhir masa jabatannya itu. Ini sudah 14 tahun perdamaian Aceh masih mencari sensasi berbau polemik?? Sudah berapa lama persoalan bendera ini tanpa kejelasan, siapa yang bertanggung jawab, DPRA tak boleh terus menerus memainkan peran antagonis mengatasnamakan rakyat di tengah solusi kongkret dari carut marut persoalan bendera ini. Sudahlah jangan lagi ada wakil rakyat yang over acting, rakyat Aceh sudah lelah,” tambahnya.
Hasbar berharap polemik dan nuansa kekacauan di Aceh hendaknya segera diakhiri. “Sudah 14 tahun perdamaian Aceh, mari bersama-sama mencari jalan keluar terbaik untuk Aceh, bukan malah mencari sensasi belaka yang kesannya tak elok di depan publik. Sudahlah, kita akhiri pola-pola tak elok itu, saatnya tuntaskan persoalan bendera ini, dan mari fokus untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat,” imbuhnya.
Rakyat Aceh, menurut KPA, sudah terlalu lama terkatung-katung dengan polemik bendera ini. “Tuntaskan segera persoalan ini, atau sejarah akan menuliskan dan dipahami oleh anak cucu bahwa persoalan bendera tak tuntas karena elit terus bersandiwara dan rakyat jadi korbannya. Kalau memang Azhari Cagee dipukul polisi minta visum saja, sehingga terbukti bukan cari sensasi,”pungkasnya.






