“Kami cari kelapa, pisang, apa saja. Berenang sambil ikat pinggang supaya tidak hanyut. Air naik hanya dalam satu setengah jam langsung tiga meter,” ujarnya. “Kami terjebak lima hari lima malam. Hari keenam pagi baru surut.”
Ia menyebut ratusan rumah rusak parah di desa itu, dan hanya tersisa fondasi. “Dari 100 persen, hanya 20 persen yang tersisa,” katanya.
“Korban jiwa sekitar 250 orang, termasuk sekitar 150 yang belum ditemukan. Ini tsunami, cuma bedanya air sungai. Baru kali ini kami merasakan bencana sebesar ini. []







