Muhaimin juga mengingatkan bahwa pers yang hanya mengandalkan kecepatan dan kecanggihan teknologi tanpa basis kualitas dan mutu akan kehilangan makna. Tanpa sentuhan manusia, jurnalisme berisiko kehilangan empati.
Tanpa verifikasi dan etika, media dapat melahirkan berita-berita halusinasi, dan tanpa keberpihakan pada kebenaran, pers akan menjauh dari publiknya sendiri.
“Rakyat tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat, tetapi juga informasi yang akurat, jujur, dan membawa arah kebaikan,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa jurnalisme tidak boleh kalah oleh algoritma. Perkembangan AI dan teknologi digital, lanjutnya, tidak boleh menggerus nilai-nilai jurnalistik atau merusak media massa. Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti manusia.
“Kekuatan pers sejatinya bersumber dari daya kritis yang konstruktif, menjunjung tinggi kebenaran, keberimbangan, dan tanggung jawab publik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Muhaimin menyampaikan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan pers yang sehat dan bermartabat. Pers yang sehat tidak hanya soal kebebasan dan profesionalisme, tetapi juga keberlanjutan ekosistem, keadilan ekonomi, konsistensi etika, serta kepercayaan publik.
Ia mengakui bahwa insan pers saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari solusi dan tidak akan bersikap abai.
“Pemerintah berkomitmen memastikan media massa memperoleh keadilan dalam mata rantai ekonomi agar jurnalisme berkualitas dapat terus hidup sebagai suluh demokrasi dan penjaga akal sehat bangsa,” katanya.






