Menurutnya, STAI Tgk Chik Pante Kulu berdiri tidak terlepas dari jejak perjuangan ulama besar Aceh, Tgk Chik Pante Kulu, yang dikenal sebagai sosok alim dengan kontribusi besar dalam membangun peradaban Islam di Aceh. Ia menilai, warisan keilmuan tersebut harus terus dihidupkan dalam aktivitas akademik dan organisasi mahasiswa.
Dalam kesempatan yang sama, M. Isa Yusuf menyampaikan bahwa setiap kegiatan mahasiswa harus tetap berada dalam koridor syariat Islam, baik dari segi konsep, pelaksanaan, maupun dampaknya terhadap masyarakat.
“Kegiatan yang baik bukan hanya sukses secara acara, tetapi juga bernilai ibadah dan membawa keberkahan,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Mubasyir yang menilai kolaborasi ini sebagai momentum penting untuk memperkuat sinergi antar lembaga mahasiswa dalam membangun karakter kader yang unggul.
Dari hasil audiensi tersebut, disepakati bahwa kegiatan kaderisasi akan dilaksanakan pada Minggu, 3 Mei 2026, sebagai bentuk komitmen bersama dalam merealisasikan agenda yang telah dirancang secara matang.
Audiensi ini menghasilkan kesepahaman bahwa seluruh agenda ke depan harus memperhatikan tiga aspek utama, yakni kematangan konsep, kesiapan teknis, dan kesesuaian dengan ajaran Islam.
PMII dan STAI Tgk Chik Pante Kulu sepakat bahwa kaderisasi bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan proses pembentukan manusia paripurna yang berpikir tajam, berzikir dalam, dan beramal nyata.
Di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks, langkah ini dinilai penting sebagai upaya mengikat gerakan mahasiswa pada nilai, bukan sekadar euforia kegiatan. Dari ruang-ruang diskusi seperti inilah, masa depan kader—bahkan masa depan umat—mulai dirancang. []







