Meskipun konektivitas Sabang-Andaman menawarkan peluang emas, transisinya tidak akan terjadi secara otomatis. Berdasarkan pandangan akademis dan kondisi riil di lapangan, terdapat sejumlah permasalahan mendasar dan tantangan berat yang harus dihadapi oleh Pemerintah Aceh dan pemangku kepentingan (stakeholders). Dr. Fachrul Razi memberikan catatan kritis kepada pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat bahwa potensi akan terjadi jebakan “Ekonomi Halaman Depan” jika minimnya hilirisasi.
Menurut Dr. Fachrul Razi, struktur ekonomi Aceh selama ini masih bergantung pada penjualan bahan baku mentah tanpa pengolahan. “Jika kerja sama dibuka tanpa kesiapan industri pengolahan lokal, Aceh hanya akan menjadi “halaman depan” atau sekadar tempat transit dan jalur perlintasan perdagangan dunia.
Tantangan utamanya adalah bagaimana membangun pabrik pengolahan di dalam daerah agar Aceh bertindak sebagai pemain utama yang menikmati nilai tambah ekonomi (value-added), bukan sekadar penonton,” tegas Fachrul Razi.
Dr. Fachrul Razi juga mengingatkan kesiapan infrastruktur dan rantai logistik dimana menurutnya pelabuhan Sabang belum sepenuhnya siap untuk langsung beroperasi sebagai hub logistik internasional yang kompetitif dalam skala besar.
“Pemerintah daerah bersama Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) harus berkejaran dengan waktu untuk memetakan dan meningkatkan kapasitas pelabuhan, membangun fasilitas pergudangan modern, menjamin ketersediaan energi/listrik yang stabil, serta menyusun rantai logistik yang efisien agar biaya pengapalan menjadi murah,”’tambahnya.







