Dalam banyak karya tulis sering dikatakan bahwa penebangan hutan bisa jadi salah satu sebab terjadinya banjir. Pendapat ini tentunya didasari pada suatu analisa bahwa hutan yang harusnya dapat menjadi sumber resapan air dipegunungan bila digundulkan akan merusak ekosistem.
Penggundulan hutan telah menyebabkan tanah longsor. Permukaan tanah sangat mudah terbawa erosi air hujan sehingga pada saat banjir datang dapat kita lihat airnya sangat keruh dipenuhi dengan lumpur dan sedimen. Ini menandakan bahwa air hujan yang datang dari pergunungan melalui sungai sudah tidak ada filterisasi lagi akibat tanah sudah gundul karena penebangan hutan.
Sementara dari sisi lain persoalan pembenahan sungai itu sendiri juga perlu difikirkan walau kadang terkendala dengan masalah anggaran , Balai wilayah sungai Sumatra 1 tentunya yang paling bertanggung jawab atas pembenahan sungai di Aceh
Banjir Lhoksukon dan Matangkuli hampir dapat kita pastikan karena persoalan revitalisasi Krueng Keurueto yang belum dilakukan secara menyeluruh. Pembangunan bendungan di Plupakam dan Blang Pante yang belum juga selesai . Konflik tepal batas belum tuntas telah menyebabkan terkendala nya pembangunan bendungan tersebut.
Sementara dari sisi lain sepanjang aliran sungai Krueng keureuto sendiri perihal penguatan tanggul dan tebing menjadi persoalan tersendiri yang belum dilakukan secara permanen. Tiap tahun pada saat musim penghujan datang ada saja tanggul sungai yang jebol atau rusak . Kondisi ini terus saja terjadi berulang- ulang layaknya seperti terpuruk pada lubang yang sama.







