Kalau saja penulis punya data angka real tentang kerugian akibat banjir yang setiap tahun terjadi pasti sudah dipaparkan disini. Namun melihat kondisi banjir tersebut yang meliputi. Kec. Tanah Luas. Matangkuli, Pirak Timu, Paya Bakong, Lhoksukon , Tanah Pasir bahkan sampai ke Kec. Lapang. Maka dapat kita proyeksikan sendiri barapa banyak rakyat yang menderita kerugian setiap tahunnya.
Para pedagang yang barang dagangannya hancur tidak memiliki nilai jual lagi, petani yang gagal panen, infrastruktur jalan dan jembatan dan saluran irigasi yang rusak mesti dibangun lagi, petani tambak dipesisir menjadi gagal panen dan ibu-ibu rumah tangga yang perabotannya hancur. Dengan terjadinya setiap tahun Tentu angkanya bisa saja ratusan milyar dan akan terus meningkat .Bahkan tidak jarang dari mereka yang harus memulai usaha dari nol kembali.
Pertanyaannya apakah kondisi ini akan terus dibiarkan sehingga rakyat harus terpuruk pada lubang yang sama setiap tahunnya.
Proyek tanbal sulam seperti merehab tanggul yang jebol bisa saja sebagai salah satu solusi jangka pendek. Namun sebagaimana kita lihat saat musim penghujan datang , kesannya adalah kita seperti sedang menunggu dimana tanggul selanjutnya akan jebol kembali.
REVITALISASI KRUENG KEUREUTO
Dengan mengambil langkah konkrit seperti penanggulangan banjir Krueng Aceh di era tahun 80 an harus bisa diadopsi sebagai salah satu solusi yang dijadikan skala prioritas dalam merestrukturisasi konsep pembangunan kota Lhoksukon sebagai ibukota Kabupaten Aceh Utara








