BANDA ACEH- Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman kedatangan tamu istimewa di pendopo. Mereka adalah delegasi Military Attache (Milat) Tour yang terdiri dari para atase militer dan rombongan dari negara sahabat. Total ada 28 atase militer plus pendamping dari 21 negara sahabat yang hadir di antaranya Amerika Serikat, Jerman, Rusia, Perancis, Spanyol, Brazil, Australia, Jepang, Korea Selatan, Srilanka, Malaysia, Singapura, dan Papua Nugini. Aneka makanan khas Aceh mulai dari Bu Kulah, Udeung Teuphep, Mie Aceh, hingga Kerupuk Mulieng disajikan Aminullah untuk menjamu tamunya. Tarian tradisional Tarek Pukat dan Rapai Geleng pun ditampilkan untuk menghibur para tetamu.
Kesempatan langka itu dimanfaatkan oleh Aminullah untuk mempromosikan segala potensi dan kelebihan kota. “Banda Aceh adalah kota perdagangan dan jasa, pendidikan, kesehatan, dan yang paling dikenal sebagai kota pariwisata.”
“Jadi sangat tepat pilihan bapak-ibu ke Banda Aceh. Kedatangan anda semua, para atase militer dari negara sahabat tentu akan semakin menambah koneksi kami dalam memperluas jaringan pariwisata Banda Aceh,” katanya, Selasa 6 Agustus 2019.
Menurutnya, orisinalitas suasana kotanya, adat istiadat, dan seni budayanya plus penerapan syariat Islam, menjadi nilai jual Banda Aceh yang tak dimiliki daerah lain. “Destinasi wisatanya pun komplet; ada Masjid Raya Baiturrahman, Museum MRB, Museum Tsunami, replika Pesawat RI 001 Seulawah, hingga Peucut Kerkhof -makam para serdadu Belanda.”
Kuliner di Banda Aceh juga sangat luar biasa. Kuah Beulangong, Kuah Pliek, dan Mie Aceh, tersedia di banyak rumah makan atau restoran. “Daerah penghasil kopi terbesar memang di wilayah tengah Aceh, tapi Banda Aceh yang punya 1.001 warung kopi dan semuanya penuh oleh pengunjung. Motto ngopi di Banda Aceh itu ‘secangkir kopi sejuta cerita’,” katanya.





