Elvi menyebutkan sebelum dilakukan pembangunan tersebut secara prosudural sudah dilakukan, bahkan pembangunannya sudah hampir rampung dikerjakan.
“Kalau saya tidak salah pembangunan tersebut tahap terakhir, dan pembangunannya sudah sesuai metode pelaksanaan. Namun pada saat terakhir penggalian kedepan sekira 4 meter ditemukan adanya batu nisan disana,” paparnya.
Hingga sampai saat ini terpaksa pembangunan IPAL tersebut terhenti pembangunannya. Karena menuai kecaman masyarakat sehingga Walikota meminta Satuan kerja (Satker) menghentikan pekerjaan tersebut.
“Karena adanya gesekan terkait persoalan ditemukannya situs tersebut sehingga dari pihak Pemko meminta dihentikan pekerjaannya,” tutur Elvi.
Meskipun pemko harus menanggung resiko akibat persoalan tersebut hingga kucuran dana dari Kementerian PUPR untuk pembangunan IPAL dihentikan.
Bahkan kini, banyak paket-paket dari Kementerian PUPR tidak diturunkan lagi ke Pemko, lantaran kondisi sebelumnya terjadi.
Namun kabarnya, pembangunan IPAL tersebut kembali dibicarakan. Ada kemungkinan dilanjutkan kembali pembangunannya.
Jika distop pembangunannya pemko tidak punya dana untuk setiap pembangunan IPAL, termasuk daerah Gp Pande bakalan menjadi sia- sia.
Namun, jika IPAL tersebut setuju dibangun kembali bukan hanya anggaran untuk IPAL itu saja diberikan malahan dana untuk penanganan situs-situs juga akan diberikan.
Kementerian PUPR berjanji akan mendukung anggaran untuk itu, karena di kementerian PUPR juga ada program kota pusaka.
“Sebenarnya kalau,lah kita memang setuju dibangun kita dapat keuntungan juga akan turun proyek, akan turun dana bukan hanya untuk IPAL saja, tapi untuk penanganan makam situs – situs yang ada di Gp Pande itu,” paparnya.







