Bayangkan jarak dari tempat mereka tinggal dengan Nibong setidaknya ada 15 km. Ini artinya mereka telah berlari sejauh itu tanpa tujuan dengan rasa ketakutan yang luar biasa. Sekilas saja terpikir bahwa apa yang disampaikan adalah TSUNAMI. karena tanah pasir berada dikawasan pesisir pantai Aceh Utara.
Lalu saya langsung balik arah kembali ke kantor bersama adik dan keluarga, anggota kerja dan para sopir truck saya meminta hari ini kita tidak kerja dan semua truck- truck harus berangkat ke Tanah Pasir untuk melakukan pertolongan warga yang disana.
Akhirnya kami bergerak, sasaran saya adalah beberapa gampung yang menjadi tempat hunian saudara kami seperti Mns. Keutapang tanah pasir dan Sawang Geudong. Namun belum sampai ketujuan truck-truck kami sudah kandas duluan disekiran pasar tanah Pasir, karena kedepannya sudah tidak mungkin dilewati akibat banjir tsunami yang belum surut .
Akhirnya kami jalan kaki mengarungi banjir dan dari informasi yang kami dapat bahwa desa yang paling parah adalah sawang karena letaknya langsung dengan pinggir pantai.
Alhamdulillah dalam pencarian ini sebagian dari keluarga kami masih ditemukan selamat dan lansung kami evakuasi ke Mns. Ampeh Tanah luas sebagai tempat tinggal sementara. Beberapa anggota keluarga lain baru kami temukan 2 dan 3 hari kemudian dalam kondisi sudah meninggal yang kemudian kami evakuasi juga ke Mns. Ampeh guna di sholatkan dan dikebumikan di tempat pemakaman keluarga di Blangjruen , karena di Gampong mereka sudah tidak mungkin lagi dengan kondisi rumah hancur dan masih tergenang banjir, dimana selanjutnya kami membuka posko penampungan keluarga sementara di rumah mamak.






