Setelah semua jenazah saudara kami temukan di Gampong Sawang, hari ketiga beberapa diantara kami menuju Banda Aceh untuk mencari jejak saudara disana. Beberapa alat berat termasuk buldozer, kami kirim ke banda melihat kondisi di banda aceh yang sangat parah dari berita media yang beredar. Sementara saya harus tinggal mengurus saudara yang ngungsi di rumah mamak dan pekerjaan dilapangan.
Akhirnya satu unit Buldozer yang dibawa oleh adik saya membersihkan halaman Masjid Raya dan kawasan sekitarnya Padangan yang memilukan dengan wajah wajah orang yang penuh duka terlihat begitu banyak manyat yang bergelimpangan di jalan jalan tanpa terurus.
Masing masing warga tampak sibuk mencari keluarganya ditengah tengah tengah kota yang hancur dipenuhi lumpur dan semak semak bekas reruntuhan bangunan. Tak ada kata yang dapat terucap yang terlihat hanyalah air mata dan Isak tangis dari mereka yang masih selamat.
Akhirnya adik saya menuju Lambaro skep untuk mencari saudara disana dan Kampung Tibang yang dulu sempat satu SMA di Lampineung . Menyisir sepanjang lamdingin masjid lambaro skep dan masjid lingke karena ada banyak jenazah disana yang telah di evakuasi warga semantara ipar saya menuju arah bitai untuk mencari keluarga abang kandungnya.
Pencarian juga menuju tempat pengungsian di Lambaro Kaphe sampai beberapa hari namun yang kami cari tidak juga Allah pertemukan. Semantara ipar saya mendapat berita dari adiknya bahwa dia telah menemukan satu orang anak dari abang nya yang terbawa arus dalam kondisi luka luka di atap rumah warga.







