Scroll untuk baca artikel
Ads
Nasional

NOSTALGIA Tiga WARTAWAN Tua Aceh PASUNDAN

39
×

NOSTALGIA Tiga WARTAWAN Tua Aceh PASUNDAN

Sebarkan artikel ini
IMG 20230215 WA0002

Siapakah gerangan mereka ini? Pria berbadan kekar adalah Hamzah Ibrahim kelahiran 12 Juni 1939 di Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Dia adalah seorang wartawan beken, kini hanya mampu mengitari sudut-sudut ruangan rumahnya saja, sejak mengalami gangguan pada penglihatannya.

Pasangan setianya yang di sebelahnya tidak lain, adalah seorang wartawati imut-imut berkulit putih, tapi masih gesit hingga kini. Usianya sudah beranjak 78 tahun. Kedua mereka ini adalah sama-sama berprofesi sebagai wartawan perang pada awal 60-an.
Pasangan wartawan ini lebih banyak berkiprah di Bumi Parahyangan selain pernah dikirim ke Maluku dan Sulawesi bersama sejumlah wartawan lainnya.

Kedua mereka awal terlibat dalam liputan perang di penghujung Pergolakan DI/TII hingga memasuki era konfrontasi Indonesia- Malaysia 1963-1966 dan disusul lagi masa Gestapu (Gerakan 30 September) PKI. Pada masa itu kedua insan pers ini belum terlilit dengan tali pernikahan, walau mereka sudah saling memandang dan saling berjalan bersama dalam liputan persnya.

Pria kelahiran, Kuta Lintang Aceh Tengah ini menceritakan kisah perjalanan hidupnya sebagai wartawan persisnya dimulai pada tahun 1962. Kala itu, tugas pertamanya disuguhkan sebagai korektor pada Harian Karya terbitan Sore di Bandung. Surat kabar ini di bawah asuhan A.K Jakobi, tokoh asal Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh. Media ini ketika itu masih menggunakan mesin hand press. Aksara katanya terbuat dari bahan timah.

Katanya, memasuki bulan keenam baru dipercayaan sebagai wartawan bidang Hankam, hukum dan kriminal.

Girl in a jacket