Tujuan operasi militer masa itu dilakukan demi memuluskan operasi Dwi kora dikenal dengan semangat ‘Ganyang Malaysia.’
Sebagai peliput berita berbagai wilayah operasi militer di masa konflik, tentu sanfat wajar kepada sosok mereka ini diberi juluki “wartawan perang parahyangan.”
Selain Hamzah Ibrahim, beberapa wartawan lainya juga ikut dalam operasi tersebut.Di antaranya Arifin Azman dari koran (Warta Bandung), dan Amir Zainun (Pikiran Rakyat) Dan Sarjono, dari Kantor Berita PIA (Perancis) langsung direkuit menjadi perajuti TNI AU dari pangkat Letnan Dua hingga berpangkat Letkol. ISNA Harahap (Warta Bandung) justeru terjun ke dunia pendidikan. Isna kemudian mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Bandung dan terakhir menjabat sebagai Hakim Agung dan meraih predikat profesor.
Selain wartawan Parahyangan, ikut juga wartawan penerjun lain yang dikirim dari Jakarta.Mereka itu adalah, Aris Ides Katopo koran (Sinar Harapan) dan Hendro Subroto dari (TVRI), serta beberapa Media lain ikut mengirim wartawannya, namun Dianya tidak teringat lagi siapa nama lainnya nya itu.
Untuk kumpulan perjalanannya ini, Hamzah telah menorehkan histories suka dukanya selama menjadi wartawan dalam sebuah buku yang diberi judul:”Bila Maut Datang Menjemput, Antar Aku Sebagai Wartawan”. Buku otobiografi ini sebagai persembahannya buat generadi mudanya. Buku ini sengaja ditulis bersama wartawan senior yang tergabung dalam MAWAS (Majelis Wartawan Senior) Jawa Barat.
Hamzah ini tidak saja sebagai penembak jitu dalam dunia peperangan, tapi Dia juga jitu dalam menembak hati si Teteh Endah, Putri Parahyangan. Bersama Teteh Endah Suheidah si wartawati Bandung Post yang juga ikut berkiprah sebagai wartawan perang ini, dikarunia tiga putra dan seorang putri.







