Hanya kala itu populeritasnya semata dikarenakan peran Pelabuhan Kuala Langsa, dengan pusat kota perdagangannya di Langsa lama.
Pelabuhan Kuala Langsa ini merupakan gerbang perdagangan dari dan keluar negeri, terutama dalam bidang impor ekspor antara daratan Aceh dengan Pulau Penang, Malaysia.
Perdagangan masa jayanya Aceh itu dilakukan secara barter, namun kesohor ke seantero Nusantara dan dunia. Perhimpunan kantor dagang Aceh ikut bertengger di George Town, Pulau Penang, kini disebut kawasan Lebuh Acheh.
Para pedagang Aceh secara person maupun yang terhimpun dalam Atjeh Kongsi membangun pusat dagang di sana.PT Tawi & Sons sendiri di bawah pimpinan Wahi membuka cabangnya di Singapura.
Jauh sebelum masa itu kegiatan perdagangan antar negara sudah berlangsung.
Buktinyanya pada tahun 1808 Teungku Sayed Husein saudagar besar asal IDI, Aceh Timur mendirikan tonggak sejarah berupa pembangun Masjid Acheh-Melayu.
Semua bangunan monumental ini masih berdiri tegak hingga kini di sana.
Asal Mula P.Penang
Ketika itu Penang dan Langsa ibarat Twin Sister(dara kembar). Menggunungnya tumbukan buah Penang kering, kopra, karet dan lada serta lainnya di sana, maka orang lebih sering menyebut “Pulau Penang”. Kita tahu tidak ada luasan kebun pinang di pulau kecil ini.
Begitu pun pulau Penang itu dianggap sangat strategis di jalur pelayaran Selat Melaka.Semua komoditi ini berasal dari Pelabuhan Lhokseumawe dan Kuala Langsa.Masa itu Belawan belum berjaya seperti sekarang.
Fungsi pulau di daratan Indo China ini pun otomatis menjadi pusat kegiatan re-ekspor barang dagangan ke India dan Timur Tengah. “Ya, seperti Singapure sekarang inilah, ungkang Teuku Badlisyah Saudagar asal Lhokseumawe suatu ketika kepada penulis.








