Kembali pada kisah Kota Langsa.Kota ini dulunya termasuk kota maju tidak saja dalam segi perdagangan eksport-import, tapi juga dalam segi kemajuan pendidikannya.Buktinya Prof.DR. Ibrahim Hasan dan Prof.DR.Abdullah Ali, Dr.Ir.Abdullah Puteh, juga M.Nasir Jamil DPR RI permanen dan Pangestu DPR RI juga pernah menimba ilmu dan lainnya sempat SLTP dan SLTAnya di Kota kecap dan kota terasi ini.
Kota ini acap disebut sebagai “kota kecap” dan “kota terasi”, sempat sijuek su’uem (panas-dingin) beberapa saat semasa berlangsung Daerah Operasi Militer(DOM)1989-1998.Bara panas (su’uem) di “kota arang bakau” ini kembali mendidih masa nobatkan sebagai Darurat Militer (Darmil) dan Darurat Spil(Darpil) 2003-2005, ikut mendera kota ini lagi.Masa itu Kilauan mesiu, aksi bom- boman, bakar membakar sering membahana.
Kota Terasi ke Smart City
Julukan kota kecap atau pun kota terasi dari segi eksistensinya masih dipertahankan hingga saat ini.
Pabrik terasi sekarang ini sudah menjadi home industri yang membanggakan seperti di kawasan Seurigit dan lainnta.Pabrik arang yang diekspor hingga ke negeri monyang India, masih terus mengepul asapnya hingga kini juga.
Sementara kita tahu, sejumlah pabrikan raksasa seperti pabrik kopi Langkahan Benar Meriah sudah bubar, korek api, kawat duri dan paku di Cot Gapu, Bireuen semua gulung tikar, pabrik tebu Cot Girek dipindah ke Kendari, Sulawesi Tenggara dan pabrik siroop Kurnia di Banda Aceh terpaksa hijrah ke Medan.Tapi, Alhamdulillah aroma kecap cap singa dan harumnya terasi masih masih mewarnai kota kecil ini.







