Wan Windi mengatakan dukungan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh memiliki peran strategis dalam membangun kolaborasi penyelenggaraan ACF.
“Kami berharap skema ini dapat terus dipertahankan dalam penyelenggaraan ke depan,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, menilai ACF 2026 menjadi bukti semakin matang, adaptif, dan mandirinya ekosistem pariwisata serta ekonomi kreatif di Aceh.
“ACF tahun ini tidak lagi sekadar festival kuliner atau pasar UMKM biasa, melainkan sebuah lompatan transformasi yang menempatkan Aceh sebagai pusat studi gastronomi berbasis sejarah, kebudayaan, dan kekayaan rempah Nusantara,” ujar Dedy.
Menurutnya, konsistensi ACF masuk jajaran Top 10 Karisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata RI menunjukkan bahwa warisan budaya Aceh memiliki daya saing tinggi, termasuk di tingkat global.
Dedy juga mengapresiasi sinergi berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, komunitas kreatif, hingga Kementerian Pariwisata RI. Kolaborasi tersebut dinilai memperkuat upaya memajukan ekonomi daerah, memberdayakan UMKM, sekaligus menerapkan prinsip pariwisata hijau yang berkelanjutan.
“Atas nama Pemerintah Aceh, kami mengundang seluruh wisatawan nusantara, wisatawan mancanegara, pegiat kuliner, dan masyarakat luas untuk hadir meramaikan Aceh Culinary Festival 2026 pada 11–14 September 2026 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh,” kata Dedy.
“Mari jelajahi lebih dari 500 variasi rasa, nikmati atraksi penutur cerita warisan budaya, dan rasakan sendiri kehangatan serta keramahan khas masyarakat Aceh,” pungkasnya.







