Alhamdulillah Masjid ini sekarang menjadi ramai dari kunjungan dan menjadi salah satu objek wisata religius di Lhoknga, pengunjung datang untuk salat dan bermunajat kepada Allah sembari melihat langsung kondisi Masjid Rahmatullah ini.
Gelombang tsunami yang maha dahsyat ini juga saya rasakan sendiri, saat itu saya baru 5 bulan tinggal di Desa Baet, Kreung Cut, Aceh Besar di Perumahan Korea (Perumahan Kuek Dong) bersebelahan dengan Kantor Harian Serambi Indonesia dulu. Apa yang saya alami ini tidak jauh beda dengan apa yang dirasakan dan dialami oleh seluruh korban tsunami lainnya di Aceh.
Pagi itu cuaca sedikit mendung dan sejuk, aktifitas masyarakat belum begitu terlihat karena masih terlalu pagi. Saat itu saya dan istri masih berada di rumah karena tidak ada aktifitas berhubung hari libur. Jam menunjukkan pukul 07.57 wib tiba-tiba bumi bergoncang hebat, gempa bumi berkeuatan 9,1 skala Richter (SR) baru saja terjadi.
Semua orang panik dan berhamburan kehalaman rumah dengan pakaian apa adanya, semua dalam keadaan bertasbih dan berzikir dengan ketakutan yang luar biasa. Tidak lama berselang terdengar dua kali dentumam sangat keras bagaikan suara bom tentu saja menambah ketakutan dan semakin panik, gerangan apa yang akan terjadi lagi. Saya malah sempat berpikir, sedang musibah gempa bumi kok ada yang lempar bom. Maklum Aceh saat itu masih dalam Konflik antara RI-GAM.
Pada pukul 08.15 wib (lebih kurang) terlihat dari arah jalan Banda Aceh-Krueng Raya orang-orang pada berlarian ketakutan sambil berteriak air laut naik, air laut naik, disertai suara gemuruh yang sangat menukutkan, saya dan istri semakin panik dan ikut berlarian ke belakang rumah Pak Mukhlis Bin H. Mansur yang tinggal satu komplek dengan kami.







