Manyat terus berdatangan dibantu oleh TNI, Polri dan warga yang tidak berdampak langsung oleh gelombang tsunami, saya masih mencoba untuk mencarinya namun lagi-lagi hasilnya nihil. suasana makin memilukan karena hampir semua orang sibuk sendiri-sendir mencari keluarganya masing-masing.
Kondisi saya sudah mulai lemas, suhu panas badan sudah mulai naik dan sekujur tubuh sudah terasa sakit, sedang saya istrahat dibawah pohon mangga dekat tower depan masjid, ketemu sama saudara saya (Zulfikri) alias Andoi, saya kasih tau beliau bahwa istri saya spertinya sudah tiada. Melihat kondisi saya semakin lemas beliau mencarikan saya makanan dan minuma, namun belum sempat beliau kasih saya makan dan minuman terdengar suara riuh “air laut naik, air lait naik” tidak mikir panjang dalam keadaan lemas dan sakit saya manjat pohon mangga sampai ke dahan paling atas, ternyata hanya isu bohong.
Hari sudah mulai senja, azan magrib sedang berkumandang saya berjalan mau ambil wudhuk, dari kejauhan terliahat kayak mirip istri saya, eh ternyata benar Allah mempertemukan saya berama isteri di Masjid saat azan berkumandang. Saya menangis dan sujud syukur bahwa Allah masih memberikan kami ksematan hidup.
Hari semakin gelap itu tandanya malam audah melai beranjak, orang-orang samakin risau karena gempa dalam skala kecil masih terus menghantui. Kami berkumpul dilantai dua masjid, suasana makin mencekam kerena lampu penerang tidak ada, ditambah kepanikan orang-orang yang trauma. Menit berganti menit, jam berganti jam, menunggu pagi tiba, malam semakin larut ketakutan semakin menjadi jadi, karena gempa masih tetap terasa, namun kami pasrahkan kepada Allah, jika pun mati biarlah mati dalam rumah Allah.







