Keesokan harinya sekitar pukul 14.00 wib, tiba-tiba bertemu dengan orang tua saya, Ayahanda Sulaiman Daud dan Abang sepupu, Saifullah Taher, Ayahanda begitu tau kejadian tsunami, hari itu juga berangkat dari Pidie Jaya ke Banda Aceh karena beliau kuatir dan tau kami tinggal berdekatan dengan laut.
Sore senin Tanggal 27 Desember 2021 kami dibawa pulang ke Pijay dan berobat di kampong. 10 hari di Paru kami berangkat ke Banda Aceh karena harus berobat di Banda, bantuan makanan, obat obatan serta tim medis berdatangan ke Aceh. Hampir seluruh negara membantu Aceh saat itu. Saya ikut ambil kesempatan berobat pada Tim Medis Beladan, Jepang dan Kanada, karena saat dibawa aris banyak air yang terminum. Namun hasil pemeriksaan dokter saya dinyatakan sehat-sehat saja, namun kondisi yang sebanrnya tubuh saya menunjukkan tanda-tanda tidak sehat.
Singkat kisah, saat terjadinya guncangan Gempa Nias Tanggal 28 Maret 2005, pukul 23.00 wib yang berkekuatan 8,7 Scala Richter, Aceh salah satu wilayah yang merasakan dampak gempa Nias tersebut, malam itu sekitar pukul 02.00 wib, tubub saya mulai terasak sakit dan sesak didada dan mengeluarkan darah dari mulut dan hidung lebih kurang 300 cc. Darah pekat dan hitam membasahi tubuh dan mulut saya, gancangan jantung semakin hebat.
Keesokan harinya saya ke Rumah Sakit Kesdam dan sempat diinap rawat inap disitu selama 10 hari masa pemulihan. Ternyata efek dari terminumnya air laut saat diterjang tsunami tersebut baru pada bulan maret tahun 2005 lah saya rasaat sakit yang begitu menyesakkan dada. Bahkan waktu itu dua kali saya bolak balek Kuala Lumpur untuk berobat.







